Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka (QS. 3:159)
Senin, 22 Oktober 2012
Gedung Fakultas Kedokteran
Fuuh, i expect at one of them :')
Minggu, 21 Oktober 2012
You Said
"Dokter itu terpandang. Tutur katanya akan selalu di dengar oleh banyak orang. Ialah pendakwah ulung"
"Seorang dokter itu memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dokter itu penolong. Ia rela mengorbankan dirinya untuk orang lain. Yang terpenting baginya adalah keselamatan pasiennya"
"Kenapa tidak ada satupun dokter di Gresik yang mau membantu acara bakti sosial? Begitu banyak sarjana kedokteran yang hanya memperoleh gelar namun tidak menggunakan kemampuannya untuk menolong mereka yang sedang membutuhkan. Mbak Fida kalau sudah jadi dokter pasti tidak akan seperti itu."
Itulah kalimat-kalimat yang acap kali ku dengar dari sang pemilik surga di telapak kakinya. Ummi. Seseorang yang hingga saat ini tutur katanya senantiasa menggetarkanku. Dan kalimat yang paling ku ingat saat ini adalah,
"Ummi ingin mbak Fida jadi dokter. Untuk ummat."
Allahu Rabbi. Hanya pertolongan-Mu untuk mencapai cita-cita ini
"Ummi ingin mbak Fida jadi dokter. Untuk ummat."
Allahu Rabbi. Hanya pertolongan-Mu untuk mencapai cita-cita ini
Sabtu, 08 September 2012
Dalang Cinta
| wayang |
Rindu. Aku padanya untukmu, yang kini telah membatu, sepengelihatanku. Sebuah kisah sederhana yang menorehkan tinta semenjak kau menjauh, sepengelihatanku. Semenjak kau tak seperti yang ku kenal dahulu, sepengelihatanku.
Rindu. Ketika ia melanda, walau hati ingin bersama, aku terus berlari sekuat tenaga. Aku tak ingin ia menjadi hantu. Aku tak ingin berharap akan bintang yang hadir dikala siang.
Menjauh. Menjauhlah. Jangan menjauh. Menjauhlah. Jangan. Jangan tinggalkan aku. Dialog batin yang tiada kunjung henti.
Cinta. Iakah dalang di antara kita? Sedangkan aku, kau adalah wayang yang telah di permainkannya.
Jumat, 07 September 2012
Ia
mungkin ia hanya malu jika terlihat begitu
perhatian
ia
hanya diam namun berpikir panjang
bahkan
ia melakukan apa yang sebaliknya ia pikirkan
ia
terlihat begitu menyebalkan
namun
aku menyukai caranya
yang
diam-diam memperhatikan
karena
ia bukan orang lain untukku
ya,
ialah....
Jumat, 17 Agustus 2012
Ramadhan Terakhir
Hari ini, bulan ramadhan terakhir di tahun ini..
Sedih? Tentu saja.
Bukan karena aku merindukan tilawahku, tahajudku, dhuhaku, infaqku di bulan ramadhan. Bukan karena aku merindukan amalan-amalanku di bulan Ramadhan. Bukan. Bukan karena itu aku bersedih. Aku, tentu saja belum mampu sehebat itu.
Lantas yang membuatku bersedih adalah pada malam ini, malam terakhir Ramadhan 1433 H, adalah malam ramadhan terakhir di masa putih abu-abuku. Malam Bulan Maghfirah terakhir di mana aku dapat memohon maaf padaNya atas kesalahan-kesalahanku saat menjadi seorang siswi. Malam dimana aku dapat menggandakan reward dari apa yang telah aku kerjakan saat semangat pelajar masih membara. Dan malam bulan penuh berkah terakhir dimana aku bisa mendapatkan kesempatan berdo'a di malam-malam ganjilnya untuk masa depanku, masa setelahku berpijak pada bangku menengah atas.
Apa saja yang ku dapatkan pada ramadhan tahun ini? Apa saja yang telah ku kerjakan? Berapa prosentase keberhasilan akan target ramadhanku? Aku lalai. Bahkan aku melupakannya. Astaghfirullahu Rabbi.
Allah, maha pengampun, maha pemberi, maha pengasih, kabulkanlah, apa yang terucap pada malam ini, ampunan dalam hidup ini, segenggam asa pada malam ini. Malam ramadhan terakhir di tahun ini. Semoga tetap untukMu, untukMu, Rabbi :')
Senin, 13 Agustus 2012
Gadis Loper Koran
Kerikil-kerikil kecil..
Eloknya,
oleh bias sinar mentari
Tersenyum,
di antara jajaran besi
Di bawah roda kereta api
Titihan-titihan kecil..
Menyongsong fajar hingga senja hari
Tepis kekejian diuniawi
Higga asa tiba di nanti
Gadis-gadis kecil..
Lenggak-lenggok kesana kemari
Memecah kegaduhan negeri
Layangkan kabar, demi sebutir nasi
Kamis, 02 Agustus 2012
I Remember-Mocca (modificated)
I remember
The way you glanced at me, yes I remember
I remember
When you walked beside me, yes I remeber
I remember
All the things that we shared and the promise we made, just you and I
I remember
All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the bench of train
Do you remember?
When we were talking in that july month
And I remember when your sister thought me was a bad girl
I remember
All the things that we shared and the promise we made, just you and I
I remember
All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the bench of train
I remember
The way you do your tasks,
yes I remember
the way you wear your shoes,
yes I remember
The cake you loved the most,
yes I remember
The way you ate that cake,
I remember
The way you glanced at me, yes I remember
When you walked beside me,
yes I remember
When we were talking in the train in that july month
And the way you smile at me,
yes I remember
i remember :')
Rabu, 27 Juni 2012
Gerimis dalam Kereta part 2
Tidak
terasa sudah setengah jam aku duduk disini. kaca jendela membasah. Gerimis,
membuatku semakin cemas. Tanpa ponsel rasanya susah sekali. Dimana dia?
Imajinasiku terbang kemana-mana.Ku alihkan pandangan keluar jendela. Mereka,
bocah-bocah itu telah pergi. Semoga kebahagian senantiasa menyentuh hati
mereka.
Tersadar akan lamunanku. Kini kedua
pipiku menjadi basah. Segera kubasuh dengan ujung jilbabku.
“Buk.. Buk..” Tiba-tiba suara
langkah kaki terdengar dari kejauhan. Semakin lama, semakin dekat. Ku dongkakkan
kepalaku.
Zamir disana. Hatiku berdegup tidak
karuan. Ah, permainan macam apa ini?
“Aku duduk, ya?”, dan aku
hanya terbungkam. Haruskah ku iyakan pertanyaannya? Ini keadaan darurat kah? Ya
Allah, aku galauuu…
“Assalamu’alaikum. Anak SMPIT, ya?” seorang wanita berjilbab memecahkan keheningan kami. Alhamdulillah, batinku.
“Wa’alaikumussalam. Iya, mbak.”,
merasa kenal dengan si mbak cantik ini. Siapa ya?
“Saya kakaknya shofi dek. Kamu
temannya Shofi, kan?”
Ah, iya. Dia kakaknya Shofi, teman
sekelasku. Beliau sekolah di SMAIT. Kalau tidak salah ingat, beliau tiga tahun
di atasku, hmm.. sudah kelas XII. “Iya mbak, aku fira. Mbak Aisyah, ya?”
“Iya. Mau pulang ya dek?” sekilas
Mbak Aisyah melirik Zamir.”Sama temannya yang ini?”,lalu tersenyum pada Zamir.
Langganan:
Postingan (Atom)




