Minggu, 21 Oktober 2012

You Said




"Dokter itu terpandang. Tutur katanya akan selalu di dengar oleh banyak orang. Ialah pendakwah ulung"

"Seorang dokter itu memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dokter itu penolong. Ia rela mengorbankan dirinya untuk orang lain. Yang terpenting baginya adalah keselamatan pasiennya"

"Kenapa tidak ada satupun dokter di Gresik yang mau membantu acara bakti sosial? Begitu banyak sarjana kedokteran yang hanya memperoleh gelar namun tidak menggunakan kemampuannya untuk menolong mereka yang sedang membutuhkan. Mbak Fida kalau sudah jadi dokter pasti tidak akan seperti itu." 

Itulah kalimat-kalimat yang acap kali ku dengar dari sang pemilik surga di telapak kakinya. Ummi. Seseorang yang hingga saat ini tutur katanya senantiasa menggetarkanku. Dan kalimat yang paling ku ingat saat ini adalah,

"Ummi ingin mbak Fida jadi dokter. Untuk ummat."

Allahu Rabbi. Hanya pertolongan-Mu untuk mencapai cita-cita ini

Sabtu, 08 September 2012

Dalang Cinta

wayang


            
            Ada yang berbeda. Mengalun dengan tidak biasa. Berjalan tanpa apa adanya. Perbedaannya membuatku bertanya. Apa akupun berubah yang menjadikanmu pula. Apa aku salah, hingga kau tak seperti sedia kala.

             Rindu. Aku padanya untukmu, yang kini telah membatu, sepengelihatanku. Sebuah kisah sederhana yang menorehkan tinta semenjak kau menjauh, sepengelihatanku. Semenjak kau tak seperti yang ku kenal dahulu, sepengelihatanku.

             Rindu. Ketika ia melanda, walau hati ingin bersama, aku terus berlari sekuat tenaga. Aku tak ingin ia menjadi hantu. Aku tak ingin berharap akan bintang yang hadir dikala siang.

             Menjauh. Menjauhlah. Jangan menjauh. Menjauhlah. Jangan. Jangan tinggalkan aku. Dialog batin yang tiada kunjung henti.

             Cinta. Iakah dalang di antara kita? Sedangkan aku, kau adalah wayang yang telah di permainkannya.

Jumat, 07 September 2012

Ia

 


mungkin ia hanya malu jika terlihat begitu perhatian

ia hanya diam namun berpikir panjang

bahkan ia melakukan apa yang sebaliknya ia pikirkan

ia terlihat begitu menyebalkan

namun aku menyukai caranya

yang diam-diam memperhatikan

karena ia bukan orang lain untukku

ya, ialah....


Jumat, 17 Agustus 2012

Ramadhan Terakhir



Hari ini, bulan ramadhan terakhir di tahun ini..

Sedih? Tentu saja.

Bukan karena aku merindukan tilawahku, tahajudku, dhuhaku, infaqku di bulan ramadhan. Bukan karena aku merindukan amalan-amalanku di bulan Ramadhan. Bukan. Bukan karena itu aku bersedih. Aku, tentu saja belum mampu sehebat itu.

Lantas yang membuatku bersedih adalah pada malam ini, malam terakhir Ramadhan 1433 H, adalah malam ramadhan terakhir di masa putih abu-abuku. Malam Bulan Maghfirah terakhir di mana aku dapat memohon maaf padaNya atas kesalahan-kesalahanku saat menjadi seorang siswi. Malam dimana aku dapat menggandakan reward dari apa yang telah aku kerjakan saat semangat pelajar masih membara. Dan malam bulan penuh berkah terakhir dimana aku bisa mendapatkan kesempatan berdo'a di malam-malam ganjilnya untuk masa depanku, masa setelahku berpijak pada bangku menengah atas.

Apa saja yang ku dapatkan pada ramadhan tahun ini? Apa saja yang telah ku kerjakan? Berapa prosentase keberhasilan akan target ramadhanku? Aku lalai. Bahkan aku melupakannya. Astaghfirullahu Rabbi.




Allah, maha pengampun, maha pemberi, maha pengasih, kabulkanlah, apa yang terucap pada malam ini, ampunan dalam hidup ini, segenggam asa pada malam ini. Malam ramadhan terakhir di tahun ini. Semoga tetap untukMu, untukMu, Rabbi  :')

Senin, 13 Agustus 2012

Gadis Loper Koran


Kerikil-kerikil kecil..
Eloknya,
oleh bias sinar mentari
Tersenyum,
di antara jajaran besi
Di bawah roda kereta api

Titihan-titihan kecil..
Menyongsong fajar hingga senja hari
Tepis kekejian diuniawi
Higga asa tiba di nanti

Gadis-gadis kecil..
Lenggak-lenggok kesana kemari
Memecah kegaduhan negeri
Layangkan kabar, demi sebutir nasi

Kamis, 02 Agustus 2012

I Remember-Mocca (modificated)

I remember
The way you glanced at me, yes I remember
I remember
When you walked beside me, yes I remeber
I remember
All the things that we shared and the promise we made, just you and I
I remember
All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the bench of train

Do you remember?
When we were talking in that july month
And I remember when your sister thought me was a bad girl
I remember
All the things that we shared and the promise we made, just you and I
I remember
All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the bench of train

I remember
The way you do your tasks,
yes I remember
the way you wear your shoes,
yes I remember
The cake you loved the most,
yes I remember
The way you ate that cake,
I remember
The way you glanced at me, yes I remember
When you walked beside me,
yes I remember
When we were talking in the train in that july month
And the way you smile at me,
yes I remember


i remember :')

Rabu, 27 Juni 2012

Gerimis dalam Kereta part 2


Tidak terasa sudah setengah jam aku duduk disini. kaca jendela membasah. Gerimis, membuatku semakin cemas. Tanpa ponsel rasanya susah sekali. Dimana dia? Imajinasiku terbang kemana-mana.Ku alihkan pandangan keluar jendela. Mereka, bocah-bocah itu telah pergi. Semoga kebahagian senantiasa menyentuh hati mereka.
Tersadar akan lamunanku. Kini kedua pipiku menjadi basah. Segera kubasuh dengan ujung jilbabku. 
“Buk.. Buk..” Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Semakin lama, semakin dekat. Ku dongkakkan kepalaku.
Zamir disana. Hatiku berdegup tidak karuan. Ah, permainan macam apa ini?
“Aku duduk, ya?”,  dan aku hanya terbungkam. Haruskah ku iyakan pertanyaannya? Ini keadaan darurat kah? Ya Allah, aku galauuu…

            “Assalamu’alaikum. Anak SMPIT, ya?” seorang wanita berjilbab memecahkan keheningan kami. Alhamdulillah, batinku.
“Wa’alaikumussalam. Iya, mbak.”, merasa kenal dengan si mbak cantik ini. Siapa ya?
“Saya kakaknya shofi dek. Kamu temannya Shofi, kan?”
Ah, iya. Dia kakaknya Shofi, teman sekelasku. Beliau sekolah di SMAIT. Kalau tidak salah ingat, beliau tiga tahun di atasku, hmm.. sudah kelas XII. “Iya mbak, aku fira. Mbak Aisyah, ya?”
“Iya. Mau pulang ya dek?” sekilas Mbak Aisyah melirik Zamir.”Sama temannya yang ini?”,lalu tersenyum pada Zamir.

Kamis, 14 Juni 2012

Gerimis dalam Kereta part 1


Mendung. Semburat biru menjadi kelabu. Burung-burung berarakan, serbu singgahsananya di atas  pepohonan.  Langit seakan-akan lukiskan kecemasanku, detail demi detailnya. Sayang langit, hanyalah sebuah langit, sampai kapanpun akan tetap menjadi langit.



“Kamu mau pulang ndak liburan ini?” SMSnya begitu mengejutkanku. Tidak biasanya dia menanyakan hal demikian. Tapi..  aku senang.
“Iya.” Kirim. Sayang hanya dapat ku jawab  demikian.
“Kalau mau pulang bareng, nanti aku beli tiket keretanya. Tapi aku ga bisa pinjami kamu uang. Uangku habis. Besok kamu kasih uangnya ya.”
Jujur, sebenarnya aku suka dengan tawarannya. Namun aku juga  takut jika harus pergi dengan dia, berdu saja. “Aku malu ketemunya” Kirim. Batalkan. Pesan tidak jadi di kirim. “Uangnya aku taruh di laci meja guru, kamu ambil sendiri, nanti pulang sekolah.” Kirim. “Minta petugas tiketnya buat kasih tempat yang agak jauh ya.” Kirim.
Sekolahku jauh. Di provinsi tetangga. Aku hidup berasrama, juga Zamir. Peraturan asrama melarang kami untuk membawa barang elektronik. Aku tidak melanggarnya, juga Zamir. Zamir menghubungiku menggunakan ponsel temannya  pada ponsel temanku untuk di sambungkan padaku. Haha. Cukup ribet. Tapi aku menyukainya. Zamir. Aku sangat menyukainya tapi entah bagaimana dia.