Jumat, 17 Agustus 2012

Ramadhan Terakhir



Hari ini, bulan ramadhan terakhir di tahun ini..

Sedih? Tentu saja.

Bukan karena aku merindukan tilawahku, tahajudku, dhuhaku, infaqku di bulan ramadhan. Bukan karena aku merindukan amalan-amalanku di bulan Ramadhan. Bukan. Bukan karena itu aku bersedih. Aku, tentu saja belum mampu sehebat itu.

Lantas yang membuatku bersedih adalah pada malam ini, malam terakhir Ramadhan 1433 H, adalah malam ramadhan terakhir di masa putih abu-abuku. Malam Bulan Maghfirah terakhir di mana aku dapat memohon maaf padaNya atas kesalahan-kesalahanku saat menjadi seorang siswi. Malam dimana aku dapat menggandakan reward dari apa yang telah aku kerjakan saat semangat pelajar masih membara. Dan malam bulan penuh berkah terakhir dimana aku bisa mendapatkan kesempatan berdo'a di malam-malam ganjilnya untuk masa depanku, masa setelahku berpijak pada bangku menengah atas.

Apa saja yang ku dapatkan pada ramadhan tahun ini? Apa saja yang telah ku kerjakan? Berapa prosentase keberhasilan akan target ramadhanku? Aku lalai. Bahkan aku melupakannya. Astaghfirullahu Rabbi.




Allah, maha pengampun, maha pemberi, maha pengasih, kabulkanlah, apa yang terucap pada malam ini, ampunan dalam hidup ini, segenggam asa pada malam ini. Malam ramadhan terakhir di tahun ini. Semoga tetap untukMu, untukMu, Rabbi  :')

Senin, 13 Agustus 2012

Gadis Loper Koran


Kerikil-kerikil kecil..
Eloknya,
oleh bias sinar mentari
Tersenyum,
di antara jajaran besi
Di bawah roda kereta api

Titihan-titihan kecil..
Menyongsong fajar hingga senja hari
Tepis kekejian diuniawi
Higga asa tiba di nanti

Gadis-gadis kecil..
Lenggak-lenggok kesana kemari
Memecah kegaduhan negeri
Layangkan kabar, demi sebutir nasi

Kamis, 02 Agustus 2012

I Remember-Mocca (modificated)

I remember
The way you glanced at me, yes I remember
I remember
When you walked beside me, yes I remeber
I remember
All the things that we shared and the promise we made, just you and I
I remember
All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the bench of train

Do you remember?
When we were talking in that july month
And I remember when your sister thought me was a bad girl
I remember
All the things that we shared and the promise we made, just you and I
I remember
All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the bench of train

I remember
The way you do your tasks,
yes I remember
the way you wear your shoes,
yes I remember
The cake you loved the most,
yes I remember
The way you ate that cake,
I remember
The way you glanced at me, yes I remember
When you walked beside me,
yes I remember
When we were talking in the train in that july month
And the way you smile at me,
yes I remember


i remember :')

Rabu, 27 Juni 2012

Gerimis dalam Kereta part 2


Tidak terasa sudah setengah jam aku duduk disini. kaca jendela membasah. Gerimis, membuatku semakin cemas. Tanpa ponsel rasanya susah sekali. Dimana dia? Imajinasiku terbang kemana-mana.Ku alihkan pandangan keluar jendela. Mereka, bocah-bocah itu telah pergi. Semoga kebahagian senantiasa menyentuh hati mereka.
Tersadar akan lamunanku. Kini kedua pipiku menjadi basah. Segera kubasuh dengan ujung jilbabku. 
“Buk.. Buk..” Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Semakin lama, semakin dekat. Ku dongkakkan kepalaku.
Zamir disana. Hatiku berdegup tidak karuan. Ah, permainan macam apa ini?
“Aku duduk, ya?”,  dan aku hanya terbungkam. Haruskah ku iyakan pertanyaannya? Ini keadaan darurat kah? Ya Allah, aku galauuu…

            “Assalamu’alaikum. Anak SMPIT, ya?” seorang wanita berjilbab memecahkan keheningan kami. Alhamdulillah, batinku.
“Wa’alaikumussalam. Iya, mbak.”, merasa kenal dengan si mbak cantik ini. Siapa ya?
“Saya kakaknya shofi dek. Kamu temannya Shofi, kan?”
Ah, iya. Dia kakaknya Shofi, teman sekelasku. Beliau sekolah di SMAIT. Kalau tidak salah ingat, beliau tiga tahun di atasku, hmm.. sudah kelas XII. “Iya mbak, aku fira. Mbak Aisyah, ya?”
“Iya. Mau pulang ya dek?” sekilas Mbak Aisyah melirik Zamir.”Sama temannya yang ini?”,lalu tersenyum pada Zamir.

Kamis, 14 Juni 2012

Gerimis dalam Kereta part 1


Mendung. Semburat biru menjadi kelabu. Burung-burung berarakan, serbu singgahsananya di atas  pepohonan.  Langit seakan-akan lukiskan kecemasanku, detail demi detailnya. Sayang langit, hanyalah sebuah langit, sampai kapanpun akan tetap menjadi langit.



“Kamu mau pulang ndak liburan ini?” SMSnya begitu mengejutkanku. Tidak biasanya dia menanyakan hal demikian. Tapi..  aku senang.
“Iya.” Kirim. Sayang hanya dapat ku jawab  demikian.
“Kalau mau pulang bareng, nanti aku beli tiket keretanya. Tapi aku ga bisa pinjami kamu uang. Uangku habis. Besok kamu kasih uangnya ya.”
Jujur, sebenarnya aku suka dengan tawarannya. Namun aku juga  takut jika harus pergi dengan dia, berdu saja. “Aku malu ketemunya” Kirim. Batalkan. Pesan tidak jadi di kirim. “Uangnya aku taruh di laci meja guru, kamu ambil sendiri, nanti pulang sekolah.” Kirim. “Minta petugas tiketnya buat kasih tempat yang agak jauh ya.” Kirim.
Sekolahku jauh. Di provinsi tetangga. Aku hidup berasrama, juga Zamir. Peraturan asrama melarang kami untuk membawa barang elektronik. Aku tidak melanggarnya, juga Zamir. Zamir menghubungiku menggunakan ponsel temannya  pada ponsel temanku untuk di sambungkan padaku. Haha. Cukup ribet. Tapi aku menyukainya. Zamir. Aku sangat menyukainya tapi entah bagaimana dia.

Sabtu, 07 April 2012

Tentang Dua Bintang

Tentang dua bintang. Bukan sepasang bintang. Karena mereka bukanlah sepasang bintang seperti halnya sepasang kekasih. Karena mereka hanya hadir sebagai dua bintang yang ingin ku pasangkan dengan bintang yang ku miliki.

Cukup sakit saat menerima kenyataan bahwa keadaan berpendapat lain. Dua bintang itu memiliki jarak yang cukup jauh dari jangkauanku. Berbagai upaya ku berikan untuk menggabungkan bitangku dengan bintang mereka, satu persatu. Sungguh, aku ingin memiliki kedua bintang itu. Namun, daya upaya tak juga membuahkan hasil. Mereka tetap jauh, bahkan semakin menjauh.

Kini, ku coba untuk berpikir lebih jernih. Menghapus segala ambisi. Keputuskan ku dapat. Tentang dua bintang, tak lagi aku mengejarnya untuk membuatnya berada di dekatku. Tentang dua bintang, kukaitkan tali mereka di pundakku.

Walau mereka tidak akan bertambah dekat, juga takkan bertambah jauh.

Kamis, 22 Maret 2012

Surat Ajaib


7 Juli 2011
Kutemukan sebuah bingkisan balok imut di atas rak buku Sekretariat Remas RU. Menyentuhnya sebentar, lalu bertanya pada sekitar, "mbak, mas, ini apa?". Hening. Seperti tidak tahu-menahu. Ku biarkan benda itu bertengger di tempatnya semula. Kupikir itu milik seseorang untuk di hadiahkan yang sedang dititipkan sebentar di sekret.


9 juli 2012
Di tempat yang sama, seorang kakak kelas menyentuh barang imut tersebut. "He rek, ga onok sing mbuka ta iki? Tak buka yo". Aku yang mudah penasaran segara mendekat. "Itu dari siapa buat siapa mbak?"

Jumat, 16 Maret 2012

Allah, Aku Ingin Seperti Mereka

Allah...
Aku ingin seperti mereka
Ingin menyentuh mereka
Menyentuh semangat mereka
Menyentuk hawa optimis milik mereka

Allah...
Aku ingin seperti mereka
Ingin ku cicipi indahnya iman
Ingin menikmati buih keimanan
Sungguh indah nian

Allah...
Aku ingin seperti mereka
Berjalan tenang meniti kehidupan
Merajut bingkai kebahagiaan
Simak hidup berpedomankan Qur'an

Allah...
Aku ingin seperti mereka
Membalut tubuhku, dengan balutan kain kehormatan
Membalut hatiku, dengan balutan sutera keimanan

Allah...
Aku ingin seperti mereka
Walau diri tak berdosa, istighfar mengalun di dalam dada
Walau nikmat terasa tipis, namun tahmid tak terkikis

Allah...
Aku ingin seperti mereka
Memiliki akhlak mulia
Tutur kata terjaga
Tak ujub akan kekayaan dunia

Aku ingin...
Aku ingin seperti mereka
Tegakkan panji Agama Islam
Ikrarkan syahid, atas nama dakwah islam

Allah.. Allah.. Allah..
Aku ingin seperti mereka
Temui janji kedua orang tua
Menjadi anak sholihah